Home » Books, Headline, Musings

“Perahu Kertas” dan Sepasang Alas Kaki

8 September 2009 2 Comments

Jam menunjukkan pukul 4.21 pagi sekarang. Siang nanti, ada sebuah meeting yang bisa jadi berarti strategis bagi keluarga saya. Tapi saya tidak bisa berhenti. Ada suatu hal yang harus saya tuntaskan sekarang juga. Ada sesuatu yang harus saya tangkap dari dada saya. Detik ini juga.

Inilah dia. “Perahu Kertas” membuat saya hampir mati. Bukan, ini bukan sebuah kritik. Sebaliknya, saya hendak mengatakan bahwa ia berhasil melumpuhkan saya. Habis-habisan lunglai karena badai emosi yang, - saya pikir, telah berhasil saya lupakan bertahun-tahun yang lalu. Lantas, bagaimana mungkin sesuatu seperti ini bukanlah hal yang buruk buat saya? Biarkan saya sedikit menjelaskannya.

Saya punya sebuah luka. Hati saya pernah sobek dan berhenti memulihkan diri. Permasalahannya, saya tak pernah tahu bahwa batin saya tak pernah sembuh seperti hati seorang anak kecil yang tersenyum gembira ke orangtuanya sehari setelah kena marah habis-habisan. Saya tak pernah sadar bahwa saya belum pernah berhasil mengumpulkan cukup daya untuk kembali membuat segenap diri saya untuk menjadi putih lagi, sebersih kertas yang tak pernah ditulisi.

Baru setelah saya menyelesaikan “Perahu Kertas”, saya gemetar karena manyadari hal itu. Saya tercekat dalam gempa hati yang seutuh-utuhnya. Segenap jiwa saya terjatuh ke dasar, menggelepar bersama potongan-potongan cerita masa lalu yang entah sampai kapan akan tetap ada di sana. Saya baru tahu, bahwa bangunan yang pernah roboh tak akan pernah terbebas dari puing-puingnya sendiri.

Pertanyaannya kemudian, apakah momen seperti ini harus dijalani oleh seseorang, siapapun dia? Tak akan ada satu jawaban yang tepat untuk semua orang. Namun yang saya tahu, bagi saya pribadi jawabannya adalah ya. Karena manusia hanya mengenal dua keadaan absolut : hidup atau mati. Jika ia mati, berakhirlah segalanya. Ia tak akan mungkin bangkit lagi untuk sebuah tujuan. Paling tidak, inilah yang bisa dilihat secara pragmatis oleh kita yang hidup di bumi ini.

Kuncinya terletak di garis yang berbatasan dengan kematian. Ketika kau hampir mati, di situlah ada sebuah kesempatan untuk dapat hidup kembali. Ketika kau berbaring dekat dengan ajal, sebenarnya di situ ada sepasang alas kaki baru untuk kau pakai berjalan kembali. Inilah titik yang saya tapaki sejam yang lalu saat saya menyelesaikan buku ini. Saya teringsut begitu dekat dengan ajal emosi.

Dan seperti yang saya singgung, “Perahu Kertas” kemudian juga menyelimuti saya dengan hangat. Berbeda dengan kebanyakan pembaca lain dari buku ini, karakter favorit saya bukanlah Keenan atau Kugy. Beliau, - dan saya memberi penekanan pada kata “beliau” -, adalah Pak Wayan. Melalui cerita beliau, saya diingatkan bahwa memiliki bukanlah analogi dari mencintai. Dan ketika hari ini saya mendapati hidup saya telah berbelok dari apa yang terjadi di masa lalu, itu adalah sebuah jalan terjal, tapi sekaligus laik untuk didaki.

Sesaat kemudian, ketika mata saya bergeser ke istri dan anak saya yang sedang tertidur lelap, saya mendadak sadar bahwa saya punya sepasang alas kaki istimewa untuk melangkah ke depan. Saya memiliki segala yang diperlukan untuk merendam diri dalam cinta yang menyembuhkan. Ijinkan saya mengatakan kepada dunia : buku ini membuat saya jatuh cinta lagi kepada istri saya. “Perahu Kertas” menggemakan kenyataan bahwa istri saya adalah sayap yang diberikan Tuhan kepada anak-Nya yang harus belajar terbang kembali. Jika kamu ikut membaca ini, Leonnie, terimalah air mata saya yang meluap dari rasa syukur bahwa kamulah yang sekarang ada di sebelah saya, - dan bukan orang lain.

Untuk Dee, terima kasih atas “Perahu Kertas”. Terima kasih untuk hentakan yang saya perlukan untuk melihat bahwa ada sesuatu di depan sana. Sebuah garis akhir perjalanan yang tak hanya mungkin dicapai, namun juga tak terlalu jauh untuk digapai. Yang harus saya lakukan hanyalah berjalan kembali. Sepelan apapun. Selangkah demi selangkah.

P.S. : gambar diambil dari blog milik Dewi Lestari dan diunggah ulang ke situs pribadi saya. Maaf kalau tak meminta ijin terlebih dahulu J

[Post to Twitter] Tweet This

2 Comments »

  • Dewi Lestari said:

    Mas Fajar,

    This is a very touching review indeed. I don’t think I should even call it a “review”. I find it more like an honest reflection, contemplation, of something much deeper than the story that I wrote.

    Thank you so much for reading “Perahu Kertas”, and for sharing this.

    Regards,

    ~ D ~

  • unquote (author) said:

    Gawat, pengarang bukunya beneran mampir ke sini…

    It’s embarrassing, really. Saya benar-benar bodoh menulis dalam Bahasa Indonesia.

    Don’t thank me for reading “Perahu Kertas”, Dee. It was my honor to do it. I insist. :)

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.